MANUSIA, TANGGUNG JAWAB, PENGABDIAN DAN PENGORBANAN
Mata Kuliah Ilmu Budaya Dasar
Dosen Pembimbing : Bagus Nurcahyo, DR. SE., MM.
Nama : Inayah Maulida
NPM : 10220735
Kelas : 1EA16
FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2020
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Saya panjatkan puji syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta hidayah-Nya kepada saya sehingga saya bisa menyelesaikan makalah Ilmu Budaya Dasar ini .
Saya sadar sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karenanya saya dengan lapang dada menerima segala saran dan kritik dari bapak dosen pembimbing mata kuliah agar saya dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Saya juga memohon maaf apabila dalam penulisan Makalah Ilmu Budaya Dasar ini terdapat kesalahan pengetikan dan kekeliruan sehingga membingungkan pembaca dalam memahami maksud penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………… i
KATA PENGANTAR ………………………… ii
DAFTAR ISI ………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN …………………………
1.1 Latar Belakang ……………………………………………………………………….
1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………………………………
1.3 Tujuan Penulisan …………………………………………………………………….
BAB II PEMBAHASAN ………………………….
2.1 Pengertian Kegelisahan …………………………………………………………
2.2 Macam Macam Kecemasan Yang Dialami Manusia ………………………………...
2.3 Sebab Sebab Seseorang Gelisah ……………………………………………………..
2.4 Contoh Contoh Kegelisahan Manusia ……………………………………………….
2.5 Usaha Usaha Mengatasi Kegelisahan Manusia ……………………………………...
2.6 Contoh Contoh Mengatasi Kegelisahan Manusia ……………………………………
2.7 Pengertian Keterasingan ……………………………………………………………..
2.8 Pengertian Kesepian …………………………………………………………………
2.9 Sebab Sebab Seseorang Yang Dilanda Kesepian ……………………………………
2.10 Contoh Contoh Seseorang Yang Dilanda Kesepian ………………………………..
2.11 Pengertian Ketidakpastian ………………………………………………………….
2.12 Sebab Sebab Ketidakpastian ……………………………………………………….
2.13 Pengertian Harapan …………………………………………………………………
2.14 Persamaan Harapan Dan Cita Cita …………………………………………………
2.15 Contoh Harapan ……………………………………………………………………
2.16 Pengertian Do’a ……………………………………………………………………
2.17 Macam Macam Do’a ……………………………………………………………….
2.18 Pengertian Kepercayaan ……………………………………………………………
2.19 Teori Teori Kebenaran ……………………………………………………………..
2.20 Usaha Usaha Manusia Untuk Meningkatkan Rasa Percaya Kepada Tuhan ……….
BAB III …………………………………………..
3.1 Kesimpulan ………………………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dalam hidupnya tak lepas dari permasalahan. Manusia dalam hidupnya pasti pernah mengalami kegelisahan. Gelisah tergolong penyakit batin, penyakit ini dapat menyerangsiapa saja, dari golongan apa, dan bangsa apapun. Bila dibandingkan dengan rasa takut, daerah operasinya lebih luas. Sebab orang yang pemberani, tak mungkin diserang oleh rasa takut. Atau orang yang mempunyai obat penangkal takut juga tidak akan dijamahnya. Umpama orang yang pernah mengerjakan perbuatan salah sudah pasti tidak akan takut untuk dituntut. Begitu pula seorang yang kaya, pasti tidak akan takut kelaparan, dan sebagainya. Tetapi walaupun benar, kaya, pandai, jujur, dan sebagainya pasti akan dilanda perasaan gelisah.Kegelisahan merupakan rasa kekhawatiran yang ada dalam diri manusia, rasa ini disebabkan karena kurang tentramnya jiwa seseorang tersebut, atau rasa tidak tenang (tidak sabar) yang menyebabkan rasa gelisah ini mincul. Pada hakekatnya sebab-sebab orang gelisah disebabkan karena rasa takut pada hak-haknya. Namun terlepas dari itu usaha untuk mengatasi kegelisan sangatlah perlu. Yaitu dengan dimulai dari diri kita sendiri, dengan bersikap tenang dan tidak terbawa pengaruh emosi dalam jiwa kita. Karena jiwa kita sendirilah yang dapat kita kontrol untuk terlepas dari rasa kegelisahan.Kegelisahan yang sering terjadi pada manusia adalah disaat seseorang pernah melakukan sebuah perbuatan buruk. Hal ini lah yang membuat seseorang mengalami kegelisahan. Hatinya tidak tenang, dia merasa cemas. Karena terlalu memikirkan perbuatan buruk yang sudah dilakukannya. Akhirnya orang tersebut terlihat murung, menyendiri dan merasa kesepian dan terasing. Oleh karena itu, kami kelompok 7 membuat makalah Ilmu Budaya Dasar tentang “Manusia dan Kegelisahan”
1.2 Rumusan Masalah
2.1 Pengertian Kegelisahan
2.2 Macam Macam Kecemasan Yang Dialami Manusia
2.3 Sebab Sebab Seseorang Gelisah
2.4 Contoh Contoh Kegelisahan Manusia
2.5 Usaha Usaha Mengatasi Kegelisahan Manusia
2.6 Contoh Contoh Mengatasi Kegelisahan Manusia
2.7 Pengertian Keterasingan
2.8 Pengertian Kesepian
2.9 Sebab Sebab Seseorang Yang Dilanda Kesepian
2.10 Contoh Contoh Seseorang Yang Dilanda Kesepian
2.11 Pengertian Ketidakpastian
2.12 Sebab Sebab Ketidakpastian
2.13 Pengertian Harapan
2.14 Persamaan Harapan Dan Cita Cita
2.15 Contoh Harapan
2.16 Pengertian Do’a
2.17 Macam Macam Do’a
2.18 Pengertian Kepercayaan
2.19 Teori Teori Kebenaran
2.20 Usaha Usaha Manusia Untuk Meningkatkan Rasa Percaya Kepada Tuhan
1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas yang diberikan kepada penulis dan juga sebagai pembelajaran bagi penulis.Disamping itu,penulisan makalah ini juga diharapkan untuk:
1. Mengetahui Pengertian Kegelisahan
2. Mengetahui Macam Macam Kecemasan Yang Dialami Manusia
3. Mengetahui Sebab Sebab Seseorang Gelisah
4. Mengetahui Contoh Contoh Kegelisahan Manusia
5. Mengetahui Usaha Usaha Mengatasi Kegelisahan Manusia
6. Mengetahui Contoh Contoh Mengatasi Kegelisahan Manusia
7. Mengetahui Pengertian Keterasingan
8. Mengetahui Pengertian Kesepian
9. Mengetahui Sebab Sebab Seseorang Yang Dilanda Kesepian
10. Mengetahui Contoh Contoh Seseorang Yang Dilanda Kesepian
11. Mengetahui Pengertian Ketidakpastian
12. Mengetahui Mengetahui Sebab Sebab Ketidakpastian
13. Mengetahui Pengertian Harapan
14. Mengetahui Persamaan Harapan Dan Cita Cita
15. Mengetahui Contoh Harapan
16. Mengetahui Pengertian Do’a
17. Mengetahui Macam Macam Do’a
18. Mengetahui Pengertian Kepercayaan
19. Mengetahui Teori Teori Kebenaran
20. Mengetahui Usaha Usaha Manusia Untuk Meningkatkan Rasa Percaya Kepada Tuhan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kegelisahan
Tanggung jawab menurut kamus umum bahasa indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai wujudan kesadaran akan kewajibannya. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bertanggung jawab.Disebut demikian karena manusia, selain merupakan makhluk individual dan makhluk sosial, juga merupakan makhluk Tuhan. Manusia memiliki tuntutan yang besar untuk bertanggung jawab mengingat ia mementaskan sejumlah peranan dalam konteks sosial, individual ataupun teologis.
Dari segi filsafah, suatu tanggung jawab itu paling sedikit didukung oleh tiga unsur, yaitu sebagai berikut:
Kesadaran, Berisi pengertian: tahu, kenal,mengerti dan dapat memperhitungkan arti, guna sampai kepada soal akibat dari pada sesuatu perbuatan atau pekerjaan yang dihadapi. Seseorang baru dapat dimintai tanggung jawab, bila ia sadar tentang apa yang diperbuatnya.
Kecintaan, Cinta suka menimbulkan kepatuhan, kerelaan dan kesedihan untuk berkorban. Contohnya: cinta kepada Allah SWT, cinta kepada keluarga, cinta kepada tanah air, dan lain sebagainya.
Keberanian, Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Berani disini didorong oleh rasa keikhlasan, tidak bersikap ragu-ragu dan takut terhadap segala macam rintangan yang timbul kemudia sebagai konsekuensi dari tindak perbuatan. Karena adanya tanggung jawab itulah, maka seseorang yang berani, juga memerlukan adanya pertimbangan-pertimbangan, perhitungan dan kewaspadaan sebelum bertindak, jadi tidak berlaku semena-mena. Dipikirkan terlebih dahulu dengan akal sehatnya
2.2 Macam-macam Kegelisahan yang Dialami Manusia
Penyebab lain kegelisahan karena adanya kemampuan seseorang untuk membaca dunia dan mengetahui misteri hidup. Kehidupan ini yang menyebabkan mereka menjadi gelisah. Mereka sendiri sering tidak tahu mengapa mereka gelisah, mereka hidupnya kosong dan tidak mempunyai arti. Orang yang tidak mempunyai dasar dalam menjalankan tugas (hidup), sering ditimpa kegelisahan. Kegelisahan yang demikian sifatnya abstrak sehingga disebut kegelisahan murni, yaitu kegelisahan murni tanpa mengetahui apa penyebabnya.
Bentuk- bentuk kegelisahan manusia berupa keterasingan, kesepian, ketidakpastian. Perasaan-perasaan semacam ini silih berganti dengan kebahagiaan, kegembiraan dalam kehidupan manusia. Tentang perasaan kegelisahan ini, Sigmund Freud membedakannya menjadi tiga macam, yaitu :
1. Kegelisahan Obyektif (Kenyataan) Kegelisahan ini mirip dengan kegelisahan terapan dan kegelisahan ini timbul akibat adanya pengaruh dari luar atau lingkungan sekitar. Contohnya : Tini seorang ibu muda, mempunyai anak berumur dua tahun, Tina namanya. Tina tumbuh sehat, montok, lucu, lincah, dan sangat akrab dengan ibunya. Hampir seluruh waktu Tini tercurahkan untuk Tina. Ia keluar kerja demi Tina, anak yang baru seorang itu. Sekonyongkonyong Tina sakit ; muntah-muntah disertai buang air. Tini bingung, anaknya segera dibawa kerumah sakit. Kata dokter, Tina harus dirawat di rumah sakit dan tidak boleh ditunggui. Tina menangis terus, tetapi ibunya harus meninggalkannya. Tini gelisah, cemas, khawatir, memikirkan nasib anaknya. Pada contoh tersebut jelas bagi kita, bahwa kegelisahan yang diderita oleh ibu Tini adalah karena adanya bahaya dari luar yang mengancam anaknya.
2. Kegelisahan Neurotik (Saraf) Kegelisahan ini berhubungan dengan sistem syaraf. Syaraf-syaraf yang bekerja secara alami ketika tubuh merasa terancam atau mengetahui akan ada suatu hal berbahaya yang akan terjadi. Tubuh tidak diperintahkan untuk melakukannya. Singkatnya kegelisahan ini ditimbulkan oleh suatu pengamatan tentang bahaya naluriah. Contohnya: Kegelisahan para peserta Indonesia Mencari Bakat ketika akan mengetahui siapa yang harus pulang pada malam mereka tampil dan kegelisahan murid-murid sekolah ketika menunggu hasil ujian akhir.
3. Kegelisahan Moral Kegelisahan ini mucul dari dalam diri sendiri. Sebagian besar karena rasa bersalah atau malu dalam ego yang ditimbulkan oleh suatu pengamatan bahaya dari hati nurani. Hal ini timbul karena pada dasarnya setiap manusia mempunyai hari nurani dan sadar atau tidak mereka tahu mana hal yang benar dan mana yang salah. Walaupun mereka melakukan kejahatan, setiap orang pastilah tahu hal yang dilakukannya itu adalah salah. Keadaan mungkin yang memaksa mereka melakukannya. Jadi, mereka tetap mempunyai rasa bersalah dan mengalami kegelisahan moral itu. Contohnya: Setelah terungkap permasalahan korupsi di tubuh KPU, banyak pihak yang terkait merasa gelisah.
2.3 Sebab-sebab Seseorang Gelisah
Bukan merupakan sebuah kepastian bahwa akar penyebab kegelisahan selalu bermula dari faktor keluarga atau metode pendidikan yang diterapkan ole kedua orang tua. Bahkan, terkadang ia muncul dari diri penderita sendiri dan itu merupakan faktor sangat dominan dan berpengaruh dalam semua aspek keberadaan manusia sampai akhir hayatnya. Fakotr penyebab kegelisahan antara lain:
A. Dari Dalam
1) Cinta Diri Kecintaan seseorang terhadap dirinya merupakan hal yang wajar, namun sebagian orang telah berlebihan dalam mempertahankan cinta tersebut, sehingga terbebani dengan berbagai macam penderitaan rasa sakit. Dalam pembahasan ini yang dimaksud cinta diri adalah kecintaan melampaui batas, perhatian berlebihan terhadap diri sendiri, dan sangat sensitif terhadap segala hal yang berkaitan dengan itu, sehingga ia tidap mendapati musibah yang lebih parah dari penyakit tersebut. Perhatian yang berlebihan terhadap diri akan menyebabkan munculnya keinginan buruk dalam diri seseorang, seperti ingin meraih kecintaan dari semua manusia, mengharapkan kehadiran mereka dengan patuh dan mau melaksanakan perintahnya secara keseluruhan demi memperoleh kerelaannya.
2) Lalai dalam Mengingat Allah Dalam beberapa hadits dan riwayat Shahih disebutkan bahwa was-was dalam keadaan tertentu akan muncul sebagai akibat kelalaian seseorang dalam mengingat Allah, berpaling dari (mencari) hikmah-Nya, dan mengetengkan perintah dan larangan-Nya. Terkadang was-was juga akan muncul dari setan yang telah menggucangkan jiwanya. Orang yang hatinya bersih dan yakin kepada Allah tidak akan terkena penyakit ini, kecuali bila menderita cacat atau tertentu. Dari sudut pandang agama, mengingat Allah ibarat benteng kuat dan baju besi yang melindungi manusia dari berbagai macam bahaya, seperti penyakit kejiwaan. Sebagaimana, kita juga dapat menjadikannya sbagai pijakan dalam proses pengobatannya. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa was-was bisa muncul sebagai akibat perbuatan haram dan mungkar, sebaliknya mencari perlindungan Allah dapat mencegah seseorang dari dampak negatifnya,.
3) Gejolak Hati Terkadang was-was muncul dalam keadaan tertentu lantaran kegalauan hati yang sangat keras akan hal-hal sepele dan remeh. Ketika ia tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menyibukkan dirinya, ia akan memikirkan masalah dan khayalan sia-sia, sehingga sering kali hal itu menyeretnya kedalam kubang was-was. Karena iitu, ketika seorang anak kecil mengotori badannya, maka ia akan segera melawan guncangan jiwa lantaran takut akan hukuman ibunya dengan cara mencuci kotoran tersebut berulang kali. Dan, pengulangan itu memberikan kemungkinan bagi muncul dan tertanamnya pemikiran yang bersifat was-was tersebut. Sebagian orang berkeyakinan bahwa pemikiran yang disertai perasaan was-was sebenarnya merupakan sejenis kegelisahan yang timbul dari penyakit kejiwaan yang dapat disembuhkan dengan mudah.
4) Rasa Takut dan Malu Mungkin, sifat malu merupakan salah satu diantara faktor penyebab was-was, sebab seorang pemalu adalah orang yang takut berdiam diri dan inilah yang mengharuskan kita membahas tentang sebab-sebabnya pada anak-anak. Karena itu, mereka yang pada masa kecilnya telah mendapatkan pelecehan dan perlakuan keras, pada masa dewasanya tidak akan mampu menghadapi problem yang sangat besar dan menyelesaikannya secara benar. Ini menunjukkan bahwa seorang pemalu akan berusaha dengan berbagai macam cara untuk melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya agar tidak menjadi bahan penilaian dan cemoohan orang lain. Inilah yang mendorongnya melakukan pekerjaan secara berulang agar dapat menyelesaikannya sebaik mungkin, yang pada akhirnya menjerumuskannya kedalam was-was.
5) Tidak Merasa Aman Dalam keadaan tertentu, perasaan tidak aman merupakan faktor penyebab terjadinya waswas. Dengan kata lain, sebagian orang akan menderita was-was lantaran dirinya merasakan tidak adanya keamanan. Terkadang, perasaan semacam ini merupakan akibat dari lemahnya kepribadian dan tidak adanya kemampuan dalam mengendalikan diri. Tidak diragukan lagi bahwa benturan kejiwaan yang datang secara tiba-tiba pada diri seseorang akan mendorong munculnya perasaan tidak aman dalam diri , yang kemudian akan menyebabkan tertimpa waswas. Sebagaimana, tekanan jiwa akan menghilangkan perasaan aman dalam pikiran seseorang. Ini juga merupakan penyebab lemahnya kepribadian dan menjadikannya sebagai sasaran empuk bagi penyakit was-was.
6) Jiwa yang Lemah Kelemahan jiwa dalam diri seseorang dapat mencapai suatu taraf dimana ia sendiri kehilangan kekuatan untuk mengendalikannya, sehingga kita mendapatinya dengan terpaksa menyerah dihadapan kejadian-kejadian yang dialaminya. Ketika ia menampakkan keinginan agar seluruh pekerjaannya sebanding dengan orang yang lebih utama darinya, maka perasaan ini akan berubah kedalam bentuk perasaan lemah.
B. Kemasyarakatan Terkadang, dalam beberapa keadaan, was-was diakibatkan oleh faktor sosial dimana kita dapat melihat sebagian gejalanya ketika seseorang melakukan suatu perbuatan yang sama dengan orang lain dan selalu mengikutinya. Namun kasus ini berbeda dengan dimana anak-anak mewarisinya dari ayah atau ibunya. Dengan kata lain, mengikuti perilaku orang lain dan taklid terhadap kelakuan mereka yang salah serta berteman dengan segala penderita penyakit tersebut akan menyebabkan terjadinya kontradiksi yang dibencinya dan membantu proses transfer penyakit tersebut dari satu orang kepada orang lain.
2.4 Contoh-contoh Kegelisahan Manusia
o Kegelisahan para peserta Indonesia Mencari Bakat ketika akan mengetahui siapa yang harus pulang pada malam mereka tampil dan kegelisahan murid-murid sekolah ketika menunggu hasil ujian akhir.
o Seseorang yang tidak biasa menyanyi atau bicara didepan umum, sekonyong-konyong diminta untuk menyanyi atau berpidato. maka ia gelisah, gemetar, dan hilang keseimbangan, sehingga sulit berbicara atau menyanyi.
o Setelah terungkap permasalahan korupsi di tubuh KPU, banyak pihak yang terkait merasa gelisah.
o Tini seorang ibu muda, mempunyai anak berumur dua tahun, Tina namanya. Tina tumbuh sehat, montok, lucu, lincah, dan sangat akrab dengan ibunya. Hampir seluruh waktu Tini tercurahkan untuk Tina. Ia keluar kerja demi Tina, anak yang baru seorang itu. Sekonyong-konyong Tina sakit ; muntah-muntah disertai buang air. Tini bingung, anaknya segera dibawa kerumah sakit. Kata dokter, Tina harus dirawat di rumah sakit dan tidak boleh ditunggui. Tina menangis terus, tetapi ibunya harus meninggalkannya. Tini gelisah, cemas, khawatir, memikirkan nasib anaknya. Pada contoh tersebut jelas bagi kita, bahwa kegelisahan yang diderita oleh ibu Tini adalah karena adanya bahaya dari luar yang mengancam anaknya.
2.5 Usaha-usaha Mengatasi Kegelisahan
❖ Mencurahkan perasaan Anda. Membiarkan perasaan cemas terpendam di dalam diri adalah resep untuk serangan kecemasan. Mendiskusikan perasaan Anda dengan orang lain adalah langkah yang sangat penting. Anda bisa mendapatkan perspektif dari orang lain, dan bahkan mungkin mendapatkan sejumlah ide yang baik untuk memecahkan sebagian masalah yang Anda hadapi.
❖ Berolahraga secara teratur Studi menunjukkan bahwa individu yang rajin berolahraga memiliki tingkat kecemasan yang rendah. Menjalani latihan fisik akan meningkatkan sirkulasi serta memompa endorphin yang dapat meningkatkan suasana hati. Anda bisa melakukan secara bergantian semua jenis latihan berikut:
❖ Kita Layak Dicintai dan Memiliki Menurut BrenĂ© Brown dalam bukunya Men, Women, And Worthiness, ketika kita sampai ke tempat di mana kita mengerti bahwa cinta dan memiliki, harga diri kita, kelayakan yang kita miliki adalah hak asasi kita dan bukan sesuatu yang kita harus mendapatkan, apa pun mungkin.
❖ Melatih Pikiran Untuk Tidak Gelisah Meditasi adalah metode yang bermanfaat untuk menghilangan kegelisahan dengan sertamerta. Dengan latihan, metode ini mampu menciptakan perbaikan terhadap kondisi pikiran untuk jangka panjang serta meningkatkan kesehatan mental Anda.
2.6 Contoh-contoh Mengatasi Kegelisahan
o Berbicara dengan orang yang dicintai dan dipercayai adalah tempat yang baik untuk memulai langkah ini. Pasangan, orang tua, saudara, atau teman baik sangat mengenal Anda dengan baik dan mungkin bisa memberikan perspektif mengenai cara mengurangi kegelisahan. Meskipun demikian, adakalanya orang-orang terdekat terkadang bisa jadi merupakan sumber kecemasan itu sendiri.
o Jika Anda seorang pemula, gunakan CD meditasi dengan panduan atau bergabung dengan kelas meditasi. Pemimpin meditasi akan mengajarkan Anda cara untuk menenangkan pikiran dan meraih ketenangan ketika pikiran Anda mulai kalut o Latihan kardio seperti bersepeda, berjalan cepat, berlari, atau berenang.
o Latihan angkat beban untuk mengencangkan otot Anda.
o Latihan untuk menguatkan tubuh seperti yoga dan “Pilates”.
o Berkonsultasi dengan seorang terapis. Terapis adalah seorang profesional dan pendegar yang obyektif, serta dibayar untuk memberikan solusi dalam mengatasi kegelisahan yang Anda rasakan. Jika Anda mengalami kecemasan terus-menerus yang tidak mampu diatasi seorang diri, Anda perlu mencoba terapi.
2.7 Pengertian Keterasingan
Keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata itu adalah dari kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang, sehingga kata terasing berarti tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain, atau terpencil. Terasing atau keterasingan adalah bagian hidup manusia, sebentar atau lama orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan, sudah tentu dengan sebab dan kadar yang berbeda. Yang menyebabkan orang berada dalam keterasingan itu ialah perilakunya yang tidak dapat diterima atau tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat atau kekurangan yang ada pada diri seseorang, sehingga ia tidak dapat atau sulit menyesuaikan diri dalam masyarakat.
Keterasingan yang dipaksakan oleh manusia lain dalam masyarakat misalnya tidak simpati, tidak mau berurusan, tidak mempedulikan, bahkan mengisolasi sipelaku. Orang yang bersifat angkuh, sombong, besar kepala, tidak menghormati oralng lain selalu akan tersisih dari pergaulan masyarakat, karena perilaku semacam itu tidak disenangi dan dibenci oleh masyarakat. Orang lain akan merasa tersentuh nilai-nilai kemanusiaannya apabila bergaulan dengan orang angkuh, sombong, dan tidak menghormati orang lain, karena itu ia dibenci orang lain sehingga membuat ia dalam keterasingan.
Kekurangan yang ada pada diri seseorang dapat juga membuat keterasingan. Dalam hal ini bukan masyarakat yang membuat orang itu terasing, melainkan dirinya sendiri karena ketidakmampuan atau karena membuat kesalahan. Ketidakmampuan atau kesalahan ini berpengaruh pada nama baik atau harga diri atau martabat orang yang bersangkutan, ketidakmampuan disini meliputi kekurangan ilmu pengetahuan yang dimiliki ataupun ketidakmampuan fisik. Kurang ilmu pengetahuan ini disebabkan taraf pendidikannya yang belum sampai pada taraf tertentu yang dihadapinya sekarang. Dengan demikian orang yang bersangkutan tidak dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat ilmiah yang dihadapinya karena itu ia merasa gelisah dan terasingkan. Kesalahan yan dibuat seseorang juga dapat membuat orang itu dalam keterasingan dan karena itu ia merasa gelisah.
2.8 Pengertian Kesepian
Kesepian atau loneliness adalah suatu keadaan mental dan emosional yang dicirikan dengan perasaan kehampaan, merasa sunyi, tidak memiliki teman, terisolasi dan tidak adanya seseorang yang memahami akibat dari ketidaksesuaian hubungan sosial yang diharapkan dengan kenyataan kehidupan interpersonal yang menyebabkan terhambatnya atau berkurangnya hubungan sosial yang dimiliki seseorang.
Orang yang kesepian merasa terasing dari kelompoknya, tidak merasakan adanya cinta di sekelilingnya, merasa tidak ada yang peduli dengan dirinya dan merasakan kesendirian, serta merasa sulit untuk mendapatkan teman. Kesepian cenderung untuk menjadi tidak bahagia dan tidak puas dengan diri sendiri, tidak mau mendengar keterbukaan intim dari orang lain dan cenderung tidak membuka diri, merasakan kesia-siaan (hopelessness), dan merasa putus asa.
Kesepian merupakan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang dihasilkan dari tingkat memadai atau rendahnya kualitas hubungan sosial. Kesepian menjadi pengalaman yang umum di seluruh rentang kehidupan dengan sebanyak 80 persen anak-anak dan remaja dan 40 persen orang yang berusia di atas 65 tahun melaporkan merasa kesepian.
Berikut definisi dan pengertian kesepian (loneliness) dari beberapa sumber buku:
▪ Menurut Bruno (2000), kesepian adalah suatu keadaan mental dan emosional yang terutama dicirikan dengan adanya perasaan-perasaan terasing dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain.
▪ Menurut Baron (2005), kesepian adalah suatu reaksi emosional dan kognitif terhadap dimilikinya hubungan yang lebih sedikit dan lebih tidak memuaskan daripada yang diinginkan oleh orang tersebut.
▪ Menurut Rahman (2013), kesepian merupakan bentuk kegelisahan subjektif yang dirasakan pada saat suatu hubungan sosial kehilangan ciri-ciri pentingnya baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
▪ Menurut Santrock (2002), kesepian adalah ketika merasa bahwa tidak seorang pun memahami dengan baik, merasa terisolasi, dan tidak memiliki seorang pun untuk dijadikan pelarian, saat dibutuhkan atau saat stres.
▪ Menurut Taylor, dkk (2000), kesepian merupakan perasaan ketidaknyamanan yang dirasakan individu ketika hubungan sosial yang ada kurang secara kuantitas dan kualitas.
2.9 Sebab-sebab Seseorang Mengalami Kesepian
Menurut Brehm dkk (2002) terdapat empat hal yang dapat menyebabkan seseorang mengalami kesepian, yaitu:
1. Ketidak ada kuatan dalam hubungan yang dimiliki seseorang. Menurut Brehm dkk (2002) hubungan seseorang yang tidak kuat akan menyebabkan seseorang tidak puas akan hubungan yang dimiliki. Ada banyak alasan seseorang merasa tidak puas dengan hubungan yang dimiliki, merasa tidak puas dengan hubungan yang tidak kuat. Rubenstein dan Shaver (1982) menyimpulkan beberapa alasan yang banyak dikemukakan oleh orang yang kesepian, yaitu sebagai berikut:
▪ Being unattached; tidak memiliki pasangan, tidak memiliki partner seksual, berpisah dengan pasangannya atau pacarnya.
▪ Alienation; merasa berbeda, merasa tidak dimengerti, tidak dibutuhkan dan tidak memiliki teman dekat.
▪ Being Alone; pulang ke rumah tanpa ada yang menyambut, selalu sendiri.
▪ Forced isolation; dikurung di dalam rumah, dirawat inap di rumah sakit, tidak bisa kemana-mana.
▪ Dislocation; jauh dari rumah (merantau), memulai pekerjaan atau sekolah baru, sering pindah rumah, sering melakukan perjalanan (dalam Brehm dkk, 2002).
Dua kategori pertama dapat dibedakan menurut tipe kesepian dari Weiss yaitu isolasi emosional (being unattached) dan isolasi sosial (alienation). Kelima kategori ini juga dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya yaitu being unattached, alienation dan being alone disebabkan oleh karaktersitik individu yang kesepian, sedangkan forced isolation dan discolation disebabkan oleh karakteristik orang-orang yang berada di sekitar lingkungan individu yang merasa kesepian.
2. Terjadi perubahan terhadap apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan. Menurut Brehm dkk (2002) kesepian juga dapat muncul karena terjadi perubahan terhadap apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan. Pada saat tertentu hubungan sosial yang dimiliki seseorang cukup memuaskan. Sehingga orang tersebut tidak mengalami kesepian. Tetapi di saat lain hubungan tersebut tidak lagi memuaskan karena orang itu telah merubah apa yang diinginkannya dari hubungan tersebut.
3. Perubahan mood Jenis hubungan yang diinginkan seseorang Ketika sedang senang berbeda dengan jenis hubungan yang diinginkan ketika sedang sedih. Bagi beberapa orang akan cenderung membutuhkan orangtuanya ketika sedang senang dan akan cenderung membutuhkan teman-temannya ketika sedang sedih.
• Usia, seiring dengan bertambahnya usia, perkembangan seseorang membawa berbagai perubahan yang akan mempengaruhi harapan atau keinginan orang itu terhadap suatu hubungan.
• Perubahan situasi. Banyak orang tidak mau menjalin hubungan emosional yang dekat dengan orang lain ketika sedang membina karir. Ketika karir sudah mapan orang tersebut akan dihadapkan pada kebutuhan yang besar akan suatu hubungan yang memiliki komitmen secara emosional.
• Self-esteem; Kesepian berhubungan dengan self-esteem yang rendah. Orang yang memiliki self-esteem yang rendah cenderung merasa tidak nyaman pada situasi yang beresiko secara sosial. Dalam keadaan seperti ini orang tersebut akan menghindari kontak-kontak sosial tertentu secara terus menerus akibatnya akan mengalami kesepian.
4. Perilaku interpersonal. Perilaku interpersonal akan menentukan keberhasilan individu dalam membangun hubungan yang diharapkan. Dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami kesepian, orang yang mengalami kesepian akan menilai orang lain secara negatif, tidak begitu menyukai orang lain, tidak mempercayai orang lain, menginterpretasikan tindakan orang lain secara negatif, dan cenderung memegang sikap-sikap yang bermusuhan. Orang yang mengalami kesepian cenderung terhambat dalam keterampilan sosial, cenderung pasif bila dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami kesepian dan ragu-ragu dalam mengekspresikan pendapat di depan umum. Orang yang mengalami kesepian cenderung tidak responsif dan tidak sensitif secara sosial. Orang yang mengalami kesepian juga cenderung lambat dalam membangun keintiman dalam hubungan yang dimilikinya dengan orang lain. Perilaku ini akan membatasi kesempatan orang itu untuk bersama dengan orang lain dan memiliki kontribusi terhadap pola interaksi yang tidak memuaskan (Peplau & Perlman, Saks & Krupart, dalam Brehm dkk, 2002).
5. Atribusi penyebab. Menurut pandangan Peplau dan Perlman (dalam Brehm dkk, 2002) perasaan kesepian muncul sebagai kombinasi dari adanya kesenjangan hubungan sosial pada individu ditambah dengan atribusi penyebab. Atribusi penyebab dibagi atas komponen internal-eksternal dan stabiltidak stabil.
Menurut Deaux, dkk (1993), aspek-aspek kesepian atau loneliness adalah sebagai berikut:
1. Desperation (putus asa) Desperation adalah suatu keadaan dimana individu merasakan kepanikan, dan ketidakberdayaan dalam dirinya sehingga merasa ditinggalkan yang akhirnya dapat menimbulkan keinginan untuk melakukan tindakan yang nekat. Berdasarkan indikator yang spesifik dari desperation adalah:
2. Impatient boredom (tidak sabar dan bosan) Impatient boredom adalah keadaan dimana individu merasakan kebosanan pada diri sendiri sebagai akibat dari ketidaksabarannya ataupun kejenuhannya terhadap diri. Berdasarkan indikator impatient boredom seperti:
• Tidak sabar, yaitu menunjukkan perasaan kurang sabar, sangat menginginkan sesuatu.
• Sering marah (filed with anger), yaitu perasaan negatif yang dominan secara perilaku, kognitif, maupun fisiologi sewaktu seseorang membuat pilihan sadar untuk mengambil tindakan.
3. Self-deprecation (mengutuk diri) Self-deprecation yaitu suatu tindakan ketika seorang individu tidak mampu menyelesaikan masalahnya yang membuat individu meremehkan atau merendahkan diri sendiri yang mengacu pada ketidaksukaan ekstrim atau membenci diri sendiri atau menjadi marah bahkan berprasangka pada diri sendiri, indikator self-deprecation diantaranya:
• Menyesali diri, yaitu perasaan kasihan atau simpati pada diri sendiri.
• Sulit berkonsentrasi, yaitu ketidakmampuan memberikan perhatian penuh terhadap sesuatu.
4. Depression (depresi) Depression merupakan gangguan suasana hati yang berupa perasaan yang merosot seperti muram, sedih perasaan tertekan dan menarik diri dari orang lain, serta kurang tidur. Indikator depression seperti:
• Sedih, yaitu perasaan yang mendalam dan dalam waktu yang lama, murung dan muram, perasaan tidak nyaman dan terpuruk yang menyebabkan penderitaan.
• Mengasingkan diri, yaitu menjauhkan diri sehingga menyebabkan seseorang tidak bersahabat.
• Sensitif, yaitu mudah dilukai secara emosional
2.10 Contoh-contoh Seseorang Dilanda Kesepian
1. Waktu tidur terganggu, insomnia, atau gangguan saat tidur lainnya Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sleep, kesepian dapat merusak kesempatan untuk mendapatkan istirahat cukup saat tidur di malam hari. Penulis utama jurnal tersebut, Lianne Kurina, PhD, mengatakan, “Apa yang kita temukan adalah bahwa kesepian tidaklah menambah jumlah durasi tidur individu, tapi dapat membangunkan mereka lebih sering selama tidur.”
2. Menghabiskan waktu lebih lama saat mandi atau berendam Seorang ahli psikologis dan peneliti di Yale University, Connecticut, bernama John Bargh, PhD, mengatakan, “Semakin kesepian, seseorang akan semakin sering mandi dan berendam, menggunakan air yang lebih panas.” Dalam jurnal Emotion yang diterbitkan tahun 2012, Bargh melakukan survei terhadap 51 mahasiswa mengenai tingkat kesepian dan kebiasaan sehari-hari mereka. Dari sana, ia menimpulkan bahwa beberapa orang memanfaatkan kehangatan fisik sebagai pengganti kehangatan sosial. Para siswa yang dilaporkan merasa lebih kesepian juga cenderung menghabiskan waktu lebih lama saat mandi air hangat.
3. Lebih mencintai benda daripada manusia Ciri-ciri orang kesepian berikutnya adalah ketika seseorang terlalu berlebihan menyayangi sebuah benda yang dimilikinya. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Research, beberapa orang tergila-gila atas benda mati karena mereka kesepian. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai “material possession love” dan mungkin Anda pernah menyaksikan secara langsung orang yang mengalami kondisi ini. Saat tetangga Anda memanggil mobilnya “sayang,” atau saat anggota keluarga sendiri membanggakan sebuah koleksi benda tertentu. Hal ini disebabkan karena individu tersebut kurang bersosialisasi, lalu mulai memanjakan barang kepememilikan mereka.
4. “Teman” di dunia maya lebih banyak daripada teman sebenarnya Menurut Facebook, para pengguna menghabiskan rata-rata 50 menit saat menggunakan platform sosial media. Ini juga termasuk ciri-ciri orang kesepian. Ketika merasa sendiri, Anda kemungkinan menghabiskan waktu mengunggah di media sosial atau forum digital lainnya daripada berbincang dengan teman melalui telepon atau membuat rencana makan atau berkumpul bersama.
5. Cenderung lebih sering sakit Selain menunjukan masalah kesehatan, sakit juga dapat menjadi ciri-ciri orang kesepian. Kesepian memiliki efek sistemik, memungkinkan hormon stres naik. Faktanya, menjadi bagian dari lingkup sosial secara biologis sangatlah penting. Merasa kesepian dan terputus atau berhenti dari bersosialisasi dapat mempengaruhi kekebalan tubuh Anda.
6. Banyak merenung Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Directions in Psychological Science menunjukkan orang yang kesepian juga lebih banyak merenung bahkan di situasi-situasi yang ramai.
7. Kenaikan berat badan Naik berat badan juga menjadi tanda-tanda kesepian yang tak disadari. Saat diri merasa sepi, orang cenderung kehilangan motivasi, lebih banyak berdiam di kamar, malas berolahraga, dan makan lebih banyak.
8. Lebih mudah stres Studi menunjukkan kesepian juga membuat seseorang lebih mudah marah dan stres karena hal-hal kecil. Sumber-sumber stres juga menjadi lebih banyak.
2.11 Pengertian Ketidakpastian
Ketidak pastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, tanpa arah yang jelas, tanpa asal-usul yang jelas. Ketidak pastian artinya keadaan yang tidak pasti, tidak tentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, keadaan tanpa arah yang jelas, keadaan tanpa asal-usul yang jelas. Itu semua adalah akibat pikirannya tidak dapat konsentrasi. Ketidak konsentrasian disebabkan oleh berbagai sebab, yang jelas pikirannya kacau.
2.12 Sebab-sebab Ketidakpastian
1) Obsesi; Merupakan neurosa jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus menerus; Biasanya hal – hal yang tidak menyenangkan.
2) Phobia; Ialah rasa ketakutan yang tidak dikehendaki, tidak normal, kepada suatu hal atau kejadian tanpa diketahui sebab – sebabnya.
3) Kompulasi; Ialah adanya keragu – raguan tentang apa yang telah dikerjakan, sehingga ada yang tidak disadari melakukan perbuatan yang serupa berkali – kali.
4) Hysteria; Ialah neurosa yang disebabkn oleh tekanan mental,kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, kelemahan syaraf, tidak mampu menguasai diri, sugesti dari sikap orang lain.
5) Delusi; Menunjukan pikiran yang tidak beres, karena berdasarkan suatu kenyataan palsu. Tidak dapat memakai akal sehat, tidak ada dasar kenyataan dan tidak sesuai dengan pengalaman. Delusi ada 3 macam yaitu :
• Delusi persekusi : mengaggap keadaan sekitarnya jelek.
• Delusi keagungan : menganggap dirinya orang penting dan besar.
• Delusi melancholis : manganggap dirinya bersalah, hina, dan dosa.
6) Halusinasi; Khayalan yang terjadi tanpa rangsangan panca indera dengan sugesti dari orang dapat juga berhalusinasi, yang umumnya halusinasi buatan.
7) Keadaan emosi; Dalam keadaan tertentu seseorang berpengaruh oleh emosinya. Ini Nampak pada keseluruhan pribadinya.
2.13 Pengertian Harapan
Snyder (2000) menyatakan harapan adalah keseluruhan dari kemampuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan jalur mencapai tujuan yang diinginkan, bersamaan dengan motivasi yang dimiliki untuk menggunakan jalur-jalur tersebut. Harapan didasarkan pada harapan positif dalam pencapaian tujuan. Synder, Irving, dan Anderson (dalam Snyder, 2000) menyatakan harapan adalah keadaan termotivasi yang positif didasarkan pada hubungan interaktif antara agency (energi yang mengarah pada tujuan) dan pathway (rencana untuk mencapai tujuan).
Edwards (dalam Lopez, 2009) menyatakan harapan adalah Suatu mental yang positif yang akan meningkatkan kemampuan seorang individu untuk mencapai tujuan di masa depan. Ceavens, Michael, dan Snyder (dalam Snyder, 2000) menyatakan harapan adalah sebuah proses berfikir seseorang memiliki antara agency (energi yang mengarah pada tujuan) dan pathway (rencana untuk mencapai tujuan), serta harapan merupakan sebuah rasa sukses yang berasal dari agency (energi yang mengarah pada tujuan) dan pathway (rencana untuk mencapai tujuan). Menurut Edwards dkk (dalam Josep & Linley, 2004) harapan mencerminkan persepsi individu terkait kapasitas mereka untuk mengkonseptualisasikan tujuan secara jelas, mengembangkan strategi spesifik untuk mencapai tujuan tersebut (pathways thinking), menginisiasi dan mempertahankan motivasi untuk menggunakan strategi tersebut (agency thinking).
Berdasarkan pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, harapan adalah suatu keadaan mental yang posotif tentang kemampuan mencapai tujuan dimasa depan dengan dua komponen patway thinking dan agency thinking yang saling melengkapi dan timbal balik untuk mempertahankan dan mencapai tujuan yang invidu inginkan untuk dibuat dan dilakukan.
2.14 Persamaan Harapan dan Cita-cita
Pada dasarnya manusia pasti memiliki harapan. Jika manusia hidup tanpa harapan bagaikan mati dalam kehidupannya dan dalam kehidupannya pun tidak memiliki tujuan. Harapan berasal dari kata harap yang berarti suatu keinginan supaya terjadi, sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Suatu harapan yang dimiliki seseorang bisa saja berhasil atau gagal hal ini tergantung pada usaha yang kita lakukan untuk menggapai harapannya. Segala harapan yang dimiliki harus dengan kepercayaan kepada diri sendiri dan Allah SWT karena dengan kepercayaan yang kita miliki akan menambah semangat untuk menggapai harapan kita dan juga dengan berdoa kepada Allah SWT dan berserah diri.
Cita-cita merupakan suatu impian yang sudah dimiliki sejak kecil maupun sekarang dan dibatasi oleh batas waktu. Sejak kecil kita memiliki cita-cita terkadang cita-cita saat kita kecil dan ketika dewasa akan berubah, tetapi walaupun cita-cita sejak kecil dan ketika dewasa berubah kita pasti memiliki impian ingin mewujudkan cita-cita yang kita miliki saat ini. Biasanya kita mengejar cita-cita kita dengan cara pantang menyerah dan menghadapi segala rintangan, tetapi juga kita menggapainya dengan telalu ambisius hal ini memiliki dampak buruk terhadap diri kita Oleh sebab, dari ulasan diatas harapan dan cita-cita memiliki persamaan yaitu sesuatu yang menyangkut dengan masa depan yang ingin dicapai atau diraih. Harapan dan cita-cita sesuatu hal yang belum terwujud dan demi menggapainya kita melakukan usaha yang keras dan pantang menyerah sampai suatu saat nanti harapan dan cita-cita kita akan tercapai atau terwujud.
2.15 Contoh Harapan
➢ Harapan mengalahkan rasa takut : Terkadang, manusia memiliki rasa takut ketika ingin meraih impiannya. Akan tetapi, rasa takut itu bisa dikalahkan ketika memiliki setitik harapan.Harapan dapat mendorong seseorang melakukan hal-hal di luar kebiasaannya.Rasa cemas atau khawatir akan hilang karena ada keyakinan dalam diri bahwa kamu pasti bisa meraih keinginanmu. Itulah mengapa setiap orang harus memiliki harapan karena merupakan kekuatan yang besar.Rasa takut akan dilawan demi mewujudkan impian menjadi nyata.
➢ Budi seorang mahasiswa Universitas Indonesia, ia sangan rajin belajar dengan harapan di dalam ujian semester mendapatkan nilai yang baik.
➢ Agus seorang wiraswasta yang baik. Sejak memulai usahanya, ia mempunyai harapan agar usahanya menjadi besar dan maju. Ia yakin usahanya akan menjadi kenyataan, karena itu ia berusaha dengan bersungguh-sungguh.Dari kedua contoh diatas, apa yang diharapkan Budi dan Agus ialah terjadinya buah keinginan, karena itu mereka bekerja keras. Budi belajar tanpa mengenal waktu dan Agus bekerja tanpa mengenal Lelah. Semuanya itu dengan suatu keyakinan demi terwujudnya apa yang diharapkan.
2.16 Pengertian Doa
Doa merupakan sebuah ibadah, bahkan juga inti dari ibadah tersebut sebagai contoh ibadah haji. Pada hakekatnya ibadah ialah ungkapan dari lahirnya kesadaran nurani atau perasaan hajat meminta pertolongan atau bantuan Allah SWT. Namun bukan hanya seseorang yang sedang tertimpa sebuah musibah namun juga untuk seluruh umat Islam yang masih hidup (diberirahmat dan kehidupan), dalam keadaan yang masih sehat dan tidak kurang suatu apa pun, sebagai manusia kiranya kita harus berdoa untuk meminta atau bersyukur berkat rahmat yang maha kuasa. Agar kita diberi keuatan iman dan takwa agar tetap bisa melakukan segala perintah-Nya. Selain itu, jika kita menyadari bahwa situasi yang kita hadapi sehari-hari berputar seperti roda gerobak. Mungkin hari ini kita bisa beribadah dengan baik dan tulus, tapi siapa yang tahu hari berikutnya kami memiliki kemalasan suatu? Mungkin hari ini kita sangat senang, tapi siapa yang tahu besok nasib kita atau lusa menjadi sebaliknya? Oleh karena itu, dalam kondisi yang baik seperti yang kita masih perlu berdoa. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, “Tiada sesuatu yang paling mulia dalam -pandangan Allah, selain dari berdoa kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang.” (HR. Al-Hakim). Pengertian doa bagian dari ibadah adalah bahwa kedudukan doa dalam ibadah ibarat mustaka dari sebuah bangunan masjid. Doa adalah tiang penyangga, komponen penguat serta syiar dalam sebuah peribadatan. Dikatakan demikian karena doa adalah bentuk pengagungan terhadap Allah dengan disertai keikhlasan hati serta permohonan pertolongan yang disertai kejernihan nurani agar selamat dari segala musibah serta meraih keselamatan abadi.
2.17 Macam-macam Doa
Adapun lafadz doa yang ada dalam al-qur’an, yaitu:
❖ Ibadah. Seperti firman Allah dalam surat Yunus ayat ke 106 “dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat demikian, maka kamu termasuk orangorang yang zalim”.
❖ Perkataan atau keluhan. Seperti pada firman Allah dalam surat Al-Anbiya ayat ke 15 “maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi”.
❖ Panggilan atau seruan. Seperti pada firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat ke 52 “maka kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling ke belakang”.
❖ Meminta pertolongan. Seperti pada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat ke 23 “dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad) buatlah satu surat yang semisal al-qur’an itu dan ajaklah penolongpenolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
❖ Permohonan. Seperti pada firman Allah dalam surat Al-Mukmin ayat ke 49 “dan orangorang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga Jahannam, mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya dia meringankan azab dari kami barang sehari”.
2.18 Pengertian Kepercayaan
Kepercayaan berasal dari kata percaya. Artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Ada ucapan yang sering kita dengar ia tidak percaya pada diri sendiri saya tidak percaya ia berbuat seperti itu atau berita itu kurang dapat dipercaya. Bagaimana juga kita harus percaya kepada pemerintah kita harus percaya akan nasehat-nasehat kyai itu, karena nasehatnasehat itu diambil dari ajaran Al-Quran. Dengan contoh berbagai kalimat yang sering kita dengan dalam ucapan sehari-hari itu, maka jelaslah kepada kita, bahwa dasar kepercayaan itu adalah kebenaran
2.19 Teori-teori kebenaran
1. Teori Korespondensi (Bertand Russel 1872-1970) Teori kebenaran korespondensi adalah teori yang berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespondensi (berhubungan) terhadap fakta yang ada. Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar jika adakesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta. Suatu proposisi (ungkapan atau keputusan) adalah benar apabila terdapat suatu faktayang sesuai dan menyatakan apa adanya. Teori ini sering diasosiasikan denganteori-teori empiris pengetahuan.Ujian kebenaran yang di dasarkan atas teori korespondensi paling diterima secara luas oleh kelompok realis. Menurut teori ini, kebenaran adalah kesetiaan kepadarealita obyektif (fidelity to objective reality). Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi yang dijadikan pertimbangan itu, serta berusaha untuk melukiskannya, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu (Titus, 1987:237). Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dan sesuai dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut (Suriasumantri, 1990:57).
2. Teori Koherensi atau Konsistensi Teori kebenaran Koherensi. Tokoh teori ini adalah Spinosa, Hegel dan Bradley. Suatu pengetahuan dianggap benar menurut teori ini adalah “bila suatu proposisi itu mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang terdahulu yang bernilai benar”. Jadi, kebenaran dari pengetahuan itu dapat diuji melalui kejadian-kejadian sejarah, atau melalui pembuktian logis atau matematis. Pada umumnya ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu sosial, ilmu logika, menuntut kebenaran koherensi.Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan dengan fakta atau realita, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri, dengan kata lain kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan kebenarannya terlebih dahulu. Teori ini menganggap bahwa“ "Suatu pernyataan dapat dikatakan benar apabila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang di anggap benar".
3. Teori Pragmatis (Charles S 1839-1914) Teori pragmatik dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How to Make Ideals Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filsafat ini di antaranya adalah William James(1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead (1863-1931) dan C.I.Lewis (Jujun, 1990:57).Teori kebenaran Pragmatis. Tokohnya adalah William James dan John Dewey. Suatu pengetahuan atau proposisi dianggap benar menurut teori ini adalah “bila proposisi itu mempunyai konsekwensi-konsekwensi praktis (ada manfaat secara praktis) seperti yang terdapat secara inheren dalam pernyataan itu sendiri”, maka menurut teori ini, tidak ada kebenaran mutlak, universal, berdiri sendiri dan tetap. Kebenaran selalu berubah dan tergantung serta dapat diroreksi oleh pengamalan berikutnya. Teori kebenaran pragmatis adalah teori yang berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal atau sosial. Benar tidaknya suatu dalil atau teori tergantung kepada peran fungsi dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya dalam lingkup ruang dan waktu tertentu. Teori ini juga dikenal dengan teori problem solving, artinya teori yang dengan itu dapat memecahkan segala aspek permasalahan. Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.
4. Teori Performatif Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Contohnya mengenai penetapan 1 Syawal. Sebagian muslim di Indonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI atau pemerintah, sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu.Masyarakat menganggap hal yang benar adalah apa-apa yang diputuskan oleh pemegang otoritas tertentu walaupun tak jarang keputusan tersebut bertentangan dengan bukti-bukti empiris. Dalam fase hidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat, dan sebagainya. Kebenaran performatif dapat membawa kepada kehidupan sosial yang rukun, kehidupan beragama yang tertib, adat yang stabil dan sebagainya. Masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif tidak terbiasa berpikir kritis dan rasional. Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran dari pemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebenaran ini seakan-akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani melanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari kebenaran.
5. Teori Konsensus Suatu teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau perspektif tertentu dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung paradigma tersebut. Masyarakat sains bisa mencapai konsensus yang kokoh karena adanya paradigma. Sebagai komitmen kelompok, paradigma merupakan nilai-nilai bersama yang bisa menjadi determinan penting dari perilaku kelompok meskipun tidak semua anggota kelompok menerapkannya dengan cara yang sama. Paradigma juga menunjukkan keanekaragaman individual dalam penerapan nilai-nilai bersamayang bisa melayani fungsi-fungsi esensial ilmu pengetahuan. Paradigma berfungsi sebagai keputusan yuridiktif yang diterima dalam hukum tak tertulis. Adanya perdebatan antar paradigma bukan mengenai kemampuan relatif suatu paradigma dalam memecahkan masalah, tetapi paradigma mana yang pada masa mendatang dapat menjadi pedoman riset untuk memecahkan berbagai masalah secara tuntas.
6. Teori Kebenaran Sintaksis Teori ini berkembang diantara para filsuf analisa bahasa, seperti Friederich Schleiermacher. Menurut teori ini, ‘suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu mengikuti aturan sintaksis (gramatika) yang baku’.
7. Teori Kebenaran Semantis Menurut teori kebenaran semantik, suatu proposisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna. Apakah proposisi itu pangkal tumpuannya pengacu (referent) yang jelas? Jadi, memiliki arti maksudnya menunjuk pada referensi atau kenyataan, juga memiliki arti yang bersifat definitif.
8. Teori Kebenaran Non-Deskripsi Teori Kebenaran Non-Deskripsi. Teori ini dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme. Jadi, menurut teori ini suatu statemen atau pernyataan itu akan mempunyai nilai benar ditentukan (tergantung) peran dan fungsi pernyataan itu (mempunyai fungsi yang amat praktis dalam kehidupan sehari-hari).
9. Teori Kebenaran Logik Teori ini dikembangkan oleh kaum positivistik. Menurut teori ini, bahwa problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja dan hal ini akibatnya merupakan suatu pemborosan, karena pada dasarnya apa— pernyataan—yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logik yang sama yang masing-masing saling melingkupinya.
10. Agama sebagai Teori Kebenaran Manusia adalah makhluk pencari kebenaran, salah satu cara untuk menemukan suatu kebenaran adalah melalui agama. Agama dengan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam, manusia maupun tentang tuhan. Kalau ketiga teori kebenaran sebelumnya lebih mengedepankan akal, budi, rasio, dan reason manusia, maka dalam teori ini lebih mengedepankan wahyu yang bersumber dari tuhan. Penalaran dalam mencapai ilmu pengetahuan yang benar dengan berfikir setelah melakukan penyelidikan dan pengalaman. Sedangkan manusia mencari dan menentukan kebenaran sesuatu dalam agama dengan jalan mempertanyakan atau mencari jawaban tentang masalah asasi dari atau kepada kitab suci, dengan demikian suatu hal itu dianggap benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.
2.20 Usaha-usaha manusia untuk meningkatkan rasa percaya kepada tuhan
Kepercayaan kepada Tuhan Kepercayaan kepada Tuhan yang maha kuasa itu amat penting, karena keberadaan manusia itu bukan dengan sendirinya, tctapi diciptakan oleh Tuhan. Kepercayaan berarti keyakinan dan pengakuan akan kebenaran. Kepercayaanitu amat penting, karena merupakan tali kuat yang dapat menghubungkan rasa manusia dcngan Tuhannya. Bagaimana Tuhan dapat menolong umatnya, apabila umat itu tidak mcmpunyai kepercayaan kcpada Tuhannya, sebab tidak ada tali penghubung yang mengalirkan daya kekuatannya. Oleh karcna itu jika manusia berusaha agar mendapat pertolongan dari padanya, manusia harus percaya kcpada Tuhan, sebab Tuhanlah yang selalu menyertai manusia. Kepercayaan atau pengakuan akan adanya zat yang maha tinggi yang menciptakan alam semesta seisinya merupakan konsekoensinya tiap-tiap umat beragama dalam melakukan pemujaan kcpada zat tersebut. Menyebutkan usaha manusia untuk meningkatkan rasa percaya kepada Tuhannya.Berbagai usaha dilakukan manusia untuk meningkatkan rasa percaya kepada Tuhannya. Usaha itu bergantung kepada pribadi kondisi, situasi, dan lingkungan. Usaha itu antara lain :
1. Meningkatkan ketaqwaan kita dengan jalan meningkatkan ibadah
2. Meningkatkan pengabdian kita kepada masyarakat
3. Meningkatkan kecintaan kita kepada sesama manusia dengan jalan suka menolong, dermawan, dan sebagainya
4. Mengurangi nafsu mengumpulkan harta yang berlebihan
5. Menekan perasaan negatif seperti iri, dengki, fitnah, dan sebagainya
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Dari uraian pembahasan mengenai MANUSIA dan KEGELISAHANyang telah kami jelaskan, maka kami dapat menyimpulkan bahwa kegelisahan merupakan bagian hidup manusia. Tiap manusia, dengan tidak memperdulikan segala latar belakang dan kemampuannya, pasti akan mengalami kegelisahan, entah sebentar atau lama, relative ringan ataupun berat. Yang demikian ini boleh jadi sangat wajar mengingat manusia mempunyai hati dan perasaan.
Sumber dari kegelisahan adalah hawa nafsu dan sikap pamrih (tidak ikhlas). Kedua hal ini akan menyebabkan munculnya sikap keserakahan dan konflik yang juga memunculkan ketakutan, kekecewaan, dan pada akhirnya adalah kegelisahan.
Adapun bentuk-bentuk kegelisahan berupa keterasingan, kesepian, dan ketidakpastian mempunyai hubungan yang erat dan mempengaruhi satu sama lain. Keterasingan dalam satu dan lain kesempatan bisa membuahkan kegelisahan. Dan sebaliknya, kegelisahan yang begitu hebat bisa saja menimbulkan keterasingan. Kemudian dari keterasingan yang dialami seseorang bisa saja menciptakan kondisi kesepian dan karena kesepian itupun bisa saja menimbulkan ketidakpastian. Keterasingan bisa jadi merupakan perilaku sosiopatik dan sikap apatis yang tidak menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan tidak bisa hidup sendiri.Untuk mengatasi kegelisahan yang dialami manusia, cara yang paling ampuh adalah kita dituntut untuk berpikir positif, kembalikan semuanya kepada Allah SWT dan selalu mengingat nya.
DAFTAR PUSTAKA
1. http://framesthiallida24.blogspot.com/2019/01/ilmu-budaya-dasar-manusia-dan.html
2. http://naufalsyawal.blogspot.com/p/kegel.html
3. http://yurinkampus.blogspot.com/2014/01/manusia-dan-kegelisahan_17.html
4. https://syifamss.wordpress.com/2016/06/25/cara-mengatasi-kegelisahan/
5. https://www.kajianpustaka.com/2019/08/pengertian-aspek-dan-penyebab-kesepian.html
6. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200924112328-284-550327/7-tanda-kesepianyang-sering-tak-disadari
7. https://www.universitaspsikologi.com/2019/05/pengertian-dan-karakteristik-harapan-hope.html
8. https://hermilarizkitiaradefi.wordpress.com/2016/12/15/persamaan-harapan-dan-cita-cita/
9. http://mynewblogtugasku19.blogspot.com/2017/05/makalah-ilmu-budaya-dasar-manusiadan_14.html
10. http://mynewblogtugasku19.blogspot.com/2017/05/makalah-ilmu-budaya-dasar-manusiadan_14.html?m=1
11. http://rizkie-library.blogspot.com/2015/12/teori-teori-kebenaran.html
12. http://mroyanfebrianto.blogspot.com/2015/01/makalah-ilmu-budaya-dasar-m-royan.html